Kepala OJK Malang Soroti Kinerja 2025 dan Strategi Kebijakan 2026 untuk Stabilitas Sektor Keuangan
MALANG - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang mengadakan Pertemuan Lembaga Jasa Keuangan Wilayah Kerja OJK Malang Tahun 2026 pada Selasa (24/2/2026) di Malang. Pertemuan ini mengusung tema "Harmoni Sektor Keuangan: Menjaga Resiliensi, Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas dan Berkelanjutan" dan menjadi momentum untuk merefleksikan kinerja tahun 2025 serta menetapkan arah kebijakan untuk tahun 2026.
Kepala OJK Malang, Farid Faletehan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa meskipun dihadapkan pada dinamika ekonomi global dan ketidakpastian pasar keuangan pada tahun 2025, sektor jasa keuangan di wilayahnya menunjukkan kinerja yang solid. Ia menekankan bahwa profil risiko tetap terjaga dan fungsi intermediasi berjalan dengan optimal.
"Resiliensi sektor jasa keuangan merupakan hasil dari sinergi yang kuat antara regulator dan industri, serta komitmen bersama untuk menjaga tata kelola, manajemen risiko, dan kepercayaan masyarakat," ungkapnya.
Pertemuan ini dihadiri oleh pimpinan lembaga jasa keuangan yang tergabung dalam Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) Malang. Dalam kesempatan tersebut, Ketua FKIJK Malang yang diwakili oleh Area Head Malang PT Bank Mandiri (Persero), Tbk., Muhammad Mahrus, menekankan pentingnya percepatan transformasi digital yang diimbangi dengan penguatan manajemen risiko dan tata kelola perusahaan untuk menghadapi tantangan industri yang semakin kompleks.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang, Indra Kuspriyadi, juga memberikan paparan mengenai pentingnya sinergi antara kebijakan makroekonomi dan sektor jasa keuangan. Di sisi lain, Prof. Candra Fajri Ananda, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, mengingatkan bahwa kepercayaan publik adalah fondasi utama keberlanjutan sektor keuangan.
Farid juga memaparkan kinerja sektor jasa keuangan selama tahun 2025. Hingga 31 Desember 2025, kredit perbankan mengalami pertumbuhan sebesar 5,03 persen year on year (yoy), sementara penghimpunan dana pihak ketiga meningkat 4,55 persen yoy. Meskipun piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan mengalami kontraksi sebesar 3,69 persen yoy, pembiayaan modal ventura justru tumbuh signifikan sebesar 16,12 persen yoy.
Industri pergadaian mencatatkan pertumbuhan pembiayaan yang sangat tinggi, mencapai 54,36 persen yoy pada Desember 2025. Lembaga Keuangan Mikro (LKM) juga menunjukkan pertumbuhan positif dengan peningkatan penyaluran pinjaman sebesar 8,85 persen yoy.
Di sektor pasar modal, jumlah investor di wilayah kerja OJK Malang mencapai 388.140 Single Investor Identification (SID) pada Desember 2025, meningkat 30,33 persen yoy dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 297.815 SID. Rata-rata nilai transaksi saham selama bulan Desember 2025 mencapai Rp6.187 miliar, meningkat 56,84 persen yoy dari Rp3.945 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Menjelang tahun 2026, OJK menetapkan tiga kebijakan prioritas. Pertama, penguatan ketahanan sektor jasa keuangan melalui pemenuhan modal minimum lembaga jasa keuangan (LJK), pengembangan industri keuangan syariah, peningkatan tata kelola dan manajemen risiko, serta penguatan pengawasan berbasis teknologi dengan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).
- Kedua, pengembangan ekosistem sektor jasa keuangan yang kontributif melalui deregulasi perizinan dan penguatan akses pembiayaan bagi UMKM.
- Ketiga, pendalaman pasar keuangan dan pengembangan keuangan berkelanjutan dengan meningkatkan peran investor institusional serta memperluas literasi dan inklusi keuangan.
Melalui forum tersebut, Kepala OJK Malang menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas sektor jasa keuangan serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di wilayah Malang Raya, Pasuruan, dan Probolinggo.




