Kementerian Kebudayaan Tetapkan Arah Pemajuan Kebudayaan Berkelanjutan Menuju 2026
Sumber Foto: InfoPublik
Arah Kebijakan

Kementerian Kebudayaan Tetapkan Arah Pemajuan Kebudayaan Berkelanjutan Menuju 2026

Jakarta, InfoPublik — Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menegaskan komitmennya terhadap pemajuan kebudayaan yang berkelanjutan, adaptif, dan berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat. Pernyataan ini disampaikan dalam acara taklimat bertajuk "Refleksi 2025 dan Arah Kebijakan 2026" yang berlangsung di Graha Utama Gedung A Kementerian Kebudayaan, Jakarta, pada Kamis (8/1/2026).

Forum ini berfungsi sebagai sarana akuntabilitas publik dan memberikan penjelasan menyeluruh mengenai capaian dan agenda strategis kementerian setelah lebih dari satu tahun berdiri sebagai kementerian independen. Kebijakan yang diambil berfokus pada pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan secara terpadu.

Pentingnya Kebudayaan sebagai Kekuatan Hidup Masyarakat

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menekankan bahwa kebudayaan harus diposisikan sebagai kekuatan hidup masyarakat, bukan hanya sebagai aset statis. Kebudayaan diharapkan dapat memperkuat identitas, mempersatukan bangsa, sekaligus menjadi sumber kesejahteraan.

"Negara hadir sebagai fasilitator dan enabler. Kami menempatkan komunitas budaya sebagai aktor utama, sementara pemerintah bertugas membangun ekosistem, memperluas akses, meningkatkan kapasitas, dan menjembatani ketimpangan," ujarnya.

Transformasi Kebijakan dan Peran Museum

Salah satu transformasi kebijakan yang mencolok pada 2025 adalah penguatan peran museum. Menurut Menteri Fadli, museum kini berfungsi sebagai ruang edukasi publik, dialog sejarah, dan diplomasi budaya. Hal ini tercermin dari lonjakan kunjungan ke Museum Nasional Indonesia yang meningkat hingga 400 persen sepanjang 2025.

Sejauh ini, sebanyak 516 museum di seluruh Indonesia telah diregistrasi dan distandardisasi, dengan beberapa di antaranya mendapatkan dukungan revitalisasi melalui kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, swasta, serta filantropi.

Pencapaian dalam Pelestarian dan Ekonomi Budaya

Di bidang pelestarian, Kementerian Kebudayaan mencatat kemajuan yang signifikan. Selama 2025, sebanyak 85 Cagar Budaya Peringkat Nasional telah ditetapkan, meningkat hampir delapan kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga total menjadi 313. Jumlah Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia juga meningkat dari 2.213 menjadi 2.727, dengan potensi pencatatan puluhan ribu ekspresi budaya dari 1.340 kelompok etnis.

Fadli Zon menyatakan, "Pelestarian warisan budaya adalah investasi peradaban yang berbasis riset, partisipasi masyarakat, dan keberlanjutan. Warisan yang terjaga dapat memperkuat identitas bangsa dan meningkatkan martabat Indonesia di mata dunia."

Sektor ekonomi budaya menunjukkan tren positif dengan penonton film Indonesia mencapai lebih dari 80 juta orang sepanjang 2025, menandai dominasi film nasional di pasar domestik. Beberapa film dan animasi Indonesia juga telah meraih pengakuan di tingkat internasional. Pada 2026, Indonesia akan berpartisipasi resmi dalam Venice Biennale untuk pertama kalinya, yang akan memperkuat posisi seni rupa Indonesia di kancah global.

Diplomasi dan Dukungan untuk Pelaku Budaya

Penguatan diplomasi kebudayaan juga menjadi prioritas. Sepanjang 2025, Indonesia memperluas kerja sama kebudayaan dengan negara-negara sahabat dan menginisiasi forum multilateral seperti CANDI dan IPACS sebagai platform dialog lintas kawasan.

Dalam mendukung pelaku budaya, Dana Indonesia pada 2025 telah menjangkau sekitar 2.800 komunitas dan individu. Alokasi dana ini meningkat menjadi Rp6 triliun pada 2026, disertai dengan perbaikan tata kelola agar manfaatnya semakin tepat sasaran.

Komitmen untuk Kebudayaan yang Inklusif dan Berkelanjutan

Menutup paparannya, Menteri Fadli menegaskan komitmennya untuk memastikan akses kebudayaan yang inklusif, selaras dengan prinsip no one left behind dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Ia juga menekankan pentingnya menempatkan generasi muda sebagai aktor utama dalam masa depan kebudayaan Indonesia.

"Kita memerlukan fondasi bangsa yang tidak hanya kuat secara ekonomi dan teknologi, tetapi juga kokoh secara kultural," pungkasnya.