Kemenko PMK Gelar Dialog Multi Sektor untuk Kebijakan Pembangunan Manusia di Era Disrupsi AI
Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) mengadakan kegiatan Dialog Multi Stakeholder bertajuk "Transformasi Kebijakan Pembangunan Manusia dan Kebudayaan di Tengah Disrupsi Kecerdasan Artifisial" pada Rabu (26/11/2025) di Aula Heritage Kantor Kemenko PMK. Kegiatan ini menjadi tindak lanjut dari arahan Presiden RI Prabowo Subianto dalam Program Asta Cita, fokus pada penguatan sumber daya manusia dan kebudayaan.
Dalam sambutannya, Sekretaris Kemenko PMK Imam Machdi menekankan pentingnya dialog ini dalam merumuskan kebijakan yang adaptif dan responsif terhadap perubahan teknologi. "Kita ingin melihat bagaimana transformasi kebijakan pembangunan manusia dan kebudayaan dapat dirumuskan di tengah disrupsi kecerdasan artifisial," ujarnya.
Acara ini dihadiri oleh sekitar 150 peserta yang berasal dari berbagai sektor, termasuk pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat sipil. Kegiatan ini juga disiarkan melalui kanal YouTube Kemenko PMK.
Klaster Pertama: Anak, Kesehatan, dan Keluarga
Pada sesi pertama, tema yang dibahas adalah "Keluarga, Kesehatan, dan AI: Membangun Sistem Ketahanan Sosial Modern". Narasumber Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, mengatakan bahwa pemanfaatan teknologi AI dapat memperkuat ketahanan keluarga dan kesehatan masyarakat. Ia menambahkan bahwa Kemenkes telah membentuk Komite AI Bidang Kesehatan untuk memastikan pemanfaatan data yang aman dan tepat guna.
Psikiater Kristiana Siste Kurniasanti juga menyinggung peluang dan risiko penggunaan AI dalam kesehatan jiwa, sementara Toni Seno Hartono mengingatkan pentingnya perlindungan data pribadi dalam inovasi kesehatan berbasis AI.
Klaster Kedua: Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial
Sesi kedua mengangkat tema "Dari Disrupsi ke Resiliensi: Peran AI dalam Manajemen Bencana dan Ketangguhan Sosial". Kepala BMKG, Teuku Faishal Fathani, menekankan pentingnya data meteorologi dan klimatologi dalam manajemen bencana. Ia menjelaskan bahwa AI dapat memproses data dengan lebih cepat untuk memberikan informasi yang inklusif kepada masyarakat.
Harkunti Pertiwi Rahayu, Ketua Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, menekankan bahwa kolaborasi multipihak sangat penting dalam manajemen bencana, sedangkan Hammam Riza dari KORIKA memaparkan konsep Multi-Hazard Early Warning System berbasis machine learning untuk prediksi bencana yang lebih presisi.
Klaster Ketiga: Pendidikan, Kebudayaan, dan Karakter Bangsa
Sesi ketiga membahas "AI dan Identitas Nasional: Belajar, Berbudaya, dan Berkarakter di Tengah Disrupsi Digital". Wamendiktisaintek Stella Christie menyatakan bahwa manusia perlu memiliki kemampuan empati dan intuisi untuk unggul dibandingkan AI. Sementara itu, Nisa Felicia Faridz dari PSPK menyoroti tantangan ketimpangan pendidikan dan pentingnya penguatan keterampilan berpikir kritis.
Rektor Universitas Pradita, Richardus Eko Indrajit, menambahkan bahwa transformasi digital dalam pendidikan memerlukan kesiapan mental untuk beradaptasi dengan perubahan.
Di setiap sesi, peserta juga disuguhkan monolog pendek dari generasi muda yang memberikan perspektif mereka mengenai pembangunan manusia dan kebudayaan di era kecerdasan artifisial.




