Harga Emas Stabil Menjelang Perundingan Nuklir AS-Iran
Arahan News - NEW YORK, KOMPAS.com - Harga emas dunia relatif stabil pada akhir perdagangan Kamis (26/2/2026) waktu setempat, seiring pelaku pasar memilih menahan posisi menjelang putaran ketiga perundingan tidak langsung nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Jenewa.
Mengutip Reuters, harga emas di pasar spot tercatat di level 5.168,72 dollar AS per ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April ditutup turun 0,6 persen ke posisi 5.194,20 dollar AS per ons.
Analis pasar Forex.com Razan Hilal mengatakan, emas dan perak sempat mencoba menembus level resistance masing-masing di 5.200 dollar AS dan 90 dollar AS. Namun, penguatan tersebut belum mampu bertahan sepanjang pekan ini.
"Sehingga ini meningkatkan risiko koreksi harga emas jika kesepakatan geopolitik jangka pendek tercapai," ucapnya.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters, bahwa AS dan Iran berpotensi mencapai kerangka kesepakatan apabila Washington memisahkan isu nuklir dan non-nuklir dalam perundingan. Namun, sejumlah perbedaan masih perlu dipersempit dalam pembicaraan lanjutan di Jenewa.
Vice President dan Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant menilai, pasar sangat menantikan hasil putaran ketiga dari perundingan tersebut. Meski demikian, ia melihat ketidakpastian global masih cukup tinggi.
"Ada banyak minat terhadap bagaimana putaran ketiga pembicaraan ini akan berjalan. Namun terlepas dari itu, saya pikir ketidakpastian global masih cukup besar saat ini," kata Grant.
Emas sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding) memang cenderung diminati saat terjadi ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, sebab berperan sebagai safe haven atau aset lindung nilai.
Menurut Grant, meski potensi koreksi jangka pendek terbuka, tren emas masih berpeluang menguat. Ia memperkirakan harga emas berpeluang naik ke level 5.340,72 dollar AS hingga 5.400 dollar AS per ons.
Sementara itu, dari sisi kebijakan perdagangan, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyatakan, tarif impor AS untuk sejumlah negara akan naik menjadi 15 persen atau lebih, dari tarif baru yang sebelumnya ditetapkan sebesar 10 persen. Namun, ia tidak merinci negara mana saja yang terdampak.
Di sisi lain, data ekonomi terbaru menunjukkan jumlah warga AS yang mengajukan klaim baru tunjangan pengangguran naik tipis pada pekan lalu. Tingkat pengangguran pada Februari juga terlihat stabil, mencerminkan pasar tenaga kerja yang relatif kuat.
Pelaku pasar saat ini masih memperkirakan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali sepanjang tahun ini.
Adapun di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 2,5 persen menjadi 87,14 dollar AS per ons. Harga platinum merosot 2,2 persen ke 2.236,37 dollar AS per ons, sedangkan paladium melemah 1,9 persen menjadi 1.761,05 dollar AS per ons.




