Harga Emas Dunia Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Kebijakan Moneter The Fed
Sumber Foto: Mureks
Arah Kebijakan

Harga Emas Dunia Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Kebijakan Moneter The Fed

Harga emas dunia terus menunjukkan tren penguatan yang signifikan pada pertengahan Februari 2026, bergerak di kisaran US$5.000 per ons. Logam mulia ini mendapatkan dorongan kuat dari kombinasi sentimen geopolitik yang memanas dan dinamika kebijakan moneter Federal Reserve Amerika Serikat (AS) yang masih menjadi sorotan pasar.

Pada 20 Februari 2026, harga emas spot tercatat di sekitar US$4.996,20 per ons, sementara kontrak berjangka AS untuk pengiriman April 2026 ditutup pada US$4.997,4 per ons.

Sentimen Geopolitik Memicu Permintaan Emas

Ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah, menjadi salah satu pendorong utama permintaan emas sebagai aset safe-haven. Ancaman dari Presiden Donald Trump yang memberikan tenggat waktu 10-15 hari kepada Iran terkait program nuklirnya, ditambah pengerahan kekuatan militer AS terbesar di kawasan tersebut sejak invasi Irak 2003, telah meningkatkan kekhawatiran di kalangan investor. Selain itu, pembicaraan damai antara Ukraina dan Rusia di Jenewa yang berakhir tanpa terobosan, serta diskusi Gedung Putih dengan Iran yang hanya menghasilkan kemajuan terbatas, turut memperkeruh lanskap risiko global.

Dinamika Kebijakan The Fed

Di sisi lain, data ekonomi AS memberikan gambaran yang kompleks. Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada Januari 2026 menunjukkan kenaikan 0,2 persen secara bulanan dan 2,4 persen secara tahunan, lebih rendah dari proyeksi ekonom. Penurunan inflasi ini sempat memicu harapan pasar akan pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada tahun ini.

Namun, risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Januari mengungkapkan adanya perbedaan pandangan di antara para pejabat The Fed. Beberapa mendukung jeda pemangkasan suku bunga, sementara yang lain bahkan meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi. Gubernur Federal Reserve Stephen Miran juga meredakan ekspektasi pemotongan suku bunga, mengutip data ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan. Pasar tenaga kerja AS menunjukkan ketahanan dengan klaim pengangguran awal yang turun. Investor kini menantikan rilis data Personal Consumption Expenditure (PCE) dan Produk Domestik Bruto (PDB) AS yang akan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed.

Proyeksi Harga Emas untuk Tahun 2026

Meskipun ada volatilitas jangka pendek, prospek harga emas untuk tahun 2026 cenderung optimis. Riset dari NH Korindo Sekuritas Indonesia yang dipublikasikan pada 20 Februari 2026, mempertahankan rekomendasi beli/overweight untuk emas dengan target akhir tahun di US$6.000 per ons. Analis dari BMO Equity Research, Helen Amos, bahkan memperkirakan harga emas berpeluang mencapai kisaran US$6.500 per troy ons pada akhir 2026. UBS dan JP Morgan juga menilai reli emas belum usai, dengan UBS memproyeksikan tembus US$6.200.

Faktor-faktor pendorong utama kenaikan ini meliputi lonjakan pembelian emas oleh bank sentral yang memperkuat sentimen bullish jangka panjang, ketegangan geopolitik yang berkelanjutan, produksi tambang global yang melambat, serta potensi pemangkasan suku bunga The Fed. Namun, risiko tetap ada, seperti penguatan dolar AS yang signifikan, kenaikan suku bunga yang lebih tinggi dari perkiraan, atau perbaikan stabilitas global yang cepat, yang dapat menekan harga emas.