Gejolak Timur Tengah Pengaruhi Pergerakan Pasar Kripto dan Arah Bitcoin
Pasar kripto mengalami tekanan signifikan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengonfirmasi bahwa serangan udara terhadap Iran akan terus berlanjut hingga tujuan militer tercapai. Pernyataan ini memicu gelombang risk-off di pasar global, yang berdampak negatif pada harga aset kripto utama.
Bitcoin (BTC) tercatat turun ke kisaran US$65.954 pada hari Senin, setelah sebelumnya sempat rebound menembus level US$68.000. Dalam 24 jam terakhir, BTC mengalami koreksi sekitar 1% dan mencatatkan penurunan sekitar 20% dalam sebulan terakhir. Tekanan serupa juga dialami oleh altcoin utama, dengan Ethereum (ETH) turun sekitar 2,46% ke level US$1.947, serta XRP yang melemah hampir 3% ke kisaran US$1,35. Solana (SOL) juga mencatatkan penurunan seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Pelemahan Pasar Terkait Konflik Geopolitik
Pelemahan ini terjadi di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah, yang meningkat setelah serangan udara besar-besaran oleh Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ketegangan semakin memuncak ketika Iran menolak laporan mengenai pembukaan kembali negosiasi nuklir dengan AS, sementara Inggris menyatakan kesediaannya untuk menggunakan pangkalan militer dalam mendukung serangan defensif terhadap situs rudal Iran.
Lonjakan konflik ini memicu reli pada aset safe haven tradisional, di mana harga minyak mentah mencatat kenaikan terbesar dalam empat tahun terakhir di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi. Selain itu, harga emas melonjak lebih dari 2% dalam 24 jam terakhir. Di sisi lain, indeks saham global seperti Nikkei 225 Jepang dan Hang Seng Hong Kong juga dibuka dengan pelemahan.
Analisis dari CEO Tokocrypto
Calvin Kizana, CEO Tokocrypto, menilai bahwa volatilitas yang terjadi saat ini mencerminkan tingginya sensitivitas pasar kripto terhadap sentimen makro global. "Dalam jangka pendek, Bitcoin kembali bergerak sebagai aset berisiko yang sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global. Ketika terjadi eskalasi konflik dan lonjakan harga minyak, investor cenderung mengalihkan dana ke aset safe haven seperti emas, sehingga pasar kripto mengalami tekanan," ujarnya.
Situasi Teknis Bitcoin
Secara teknis, Bitcoin kini berada di bawah area support penting di US$65.000. Jika tekanan berlanjut dan harga menembus area US$64.000, terdapat risiko pengujian ulang level US$63.000 bahkan mendekati US$60.000. Untuk mengonfirmasi pembalikan tren jangka pendek, BTC perlu kembali menembus resistance di kisaran US$68.500–US$69.000 dan melampaui level US$70.800.
Data pasar menunjukkan adanya pelemahan dari sisi on-chain dan derivatif, di mana aktivitas akumulasi whale dilaporkan menurun. Selain itu, likuidasi posisi leverage mempercepat tekanan harga, yang menunjukkan bahwa struktur pasar saat ini masih cenderung bearish, dengan minimnya dorongan beli besar yang mampu menopang reli berkelanjutan.
Prospek Pasar Kripto di Tengah Ketidakpastian
Calvin menekankan bahwa dinamika makro dapat menciptakan dua skenario berbeda bagi kripto dalam jangka menengah. "Jika eskalasi konflik mendorong bank sentral, khususnya The Fed, untuk kembali melonggarkan kebijakan moneternya, maka likuiditas tambahan di sistem keuangan global berpotensi menjadi katalis positif bagi Bitcoin. Namun, jika lonjakan harga energi memicu inflasi baru dan menunda penurunan suku bunga, maka tekanan terhadap aset berisiko bisa bertahan lebih lama," jelasnya.
Di sisi lain, prospek jangka menengah industri kripto masih ditopang oleh potensi regulasi di Amerika Serikat, termasuk pembahasan CLARITY Act yang diproyeksikan dapat memberikan kepastian hukum bagi aset digital pada pertengahan 2026. Kejelasan regulasi dianggap penting untuk membuka aliran modal institusional yang lebih besar ke pasar kripto.
Dinamika Pasar Kripto di Dalam Negeri
Di Indonesia, Calvin menambahkan bahwa pergerakan harga kripto cenderung sideways dan mulai terasa jenuh dalam beberapa bulan terakhir. Situasi ini membuat banyak investor memilih untuk wait and see sambil menunggu momentum baru yang lebih kuat. "Ketidakpastian global, mulai dari tensi geopolitik hingga arah kebijakan suku bunga The Fed, mendorong pelaku pasar untuk lebih berhati-hati dalam menambah eksposur dan melakukan ekspansi portofolio," jelasnya.
Meski demikian, minat terhadap aset kripto tetap terjaga, dengan investor di platform Tokocrypto cenderung melakukan akumulasi secara bertahap dan lebih selektif dalam memilih aset. Calvin menekankan pentingnya disiplin di tengah kondisi yang fluktuatif. "Di fase volatilitas tinggi seperti sekarang, investor perlu mengutamakan manajemen risiko dan tetap rasional dalam mengambil keputusan. Memperhatikan perkembangan geopolitik, pergerakan harga minyak, serta rilis data ekonomi AS sangat penting untuk ekspektasi suku bunga The Fed," ujarnya.




