AS Tidak Evakuasi Warganya dari Israel, Negara Lain Lakukan Repatriasi
Sumber Foto: Kompas.tv
Kompas Negara

AS Tidak Evakuasi Warganya dari Israel, Negara Lain Lakukan Repatriasi

Arahan News - Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yerusalem menyatakan tidak dapat mengevakuasi warganya di tengah meningkatnya konflik antara Iran dan AS yang berimplikasi pada serangan rudal ke Israel dan negara-negara Teluk. Warga AS diminta untuk menyusun rencana keamanan sendiri jika ingin meninggalkan Israel.

Awal Kejadian

Kedutaan AS mengeluarkan pernyataan bahwa mereka tidak dalam posisi untuk membantu proses evakuasi warga negara tersebut. Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, menekankan bahwa kedutaan tidak dapat memberikan dukungan langsung untuk meninggalkan Israel. Dalam Security Alert tertanggal 2 Maret 2026, seluruh pegawai pemerintah AS dan keluarga mereka diperintahkan untuk tetap berlindung di tempat hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Perkembangan

Kedutaan juga menyebutkan bahwa Kementerian Pariwisata Israel menyediakan shuttle ke Taba Border Crossing di Mesir, namun tidak memberikan rekomendasi atau jaminan keselamatan untuk warga yang memilih opsi tersebut. Penumpang dapat menuju Eilat dan melanjutkan ke Yitzhak Rabin Border Crossing menuju Yordania. Titik kumpul bus disediakan di beberapa kota besar seperti Herzliya, Haifa, Yerusalem, dan Tel Aviv. Namun, perlintasan Taba yang disebutkan beroperasi 24 jam tetap menghadapi potensi perubahan kondisi keamanan.

Kondisi Terakhir

Sementara itu, negara lain, seperti Bulgaria, telah mengambil langkah cepat untuk mengevakuasi warganya. Bulgaria berhasil memulangkan sekitar 300 warganya dari Oman dan menyiagakan hingga delapan pesawat untuk repatriasi, mengingat lebih dari 10.000 warga Bulgaria berada di kawasan Timur Tengah. Kedutaan AS juga mengingatkan warga akan potensi serangan mortir, roket, dan drone tanpa peringatan, serta meminta mereka untuk mengetahui lokasi bunker terdekat dan memantau sirene "red alert".