Akademisi UMM Soroti Kebijakan LPDP: Pentingnya Keseimbangan Antara STEM dan Humaniora
Malangpariwara.com – Kebijakan Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang memprioritaskan bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM) dibandingkan ilmu sosial dan humaniora mendapatkan perhatian serius dari akademisi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, M.Si.
Wahyudi menilai bahwa polemik yang berkembang di masyarakat tidak hanya sekadar merupakan kebijakan teknis pendidikan, melainkan juga mencerminkan arah pembangunan nasional yang tengah dipertaruhkan. Dalam keterangannya pada 2 Maret lalu, ia menjelaskan bahwa dinamika seputar LPDP menandakan perlunya pembenahan, khususnya dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.
Salah satu fenomena yang ia soroti adalah banyaknya penerima beasiswa yang setelah menempuh studi di luar negeri memilih untuk menetap di negara tersebut dan menjauh dari ikatan kebangsaan. “Peristiwa ini menjadi bukti sosial bahwa ada yang perlu dibenahi. Ini bukan sekadar persoalan individu, tetapi menunjukkan bahwa orientasi pembangunan dan penguatan nasionalisme kita belum sepenuhnya kokoh,” ujarnya.
Prioritas STEM dan Implikasinya
Wahyudi berpendapat bahwa prioritas terhadap STEM muncul dari paradigma lama yang menempatkan ilmu eksakta sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi, sementara ilmu sosial-humaniora dianggap sebagai pelengkap. Ia menekankan bahwa dalam perspektif sosiologi pembangunan, kemajuan tidak hanya diukur dari angka dan inovasi teknologi, tetapi juga dari terbentuknya etika publik, kesadaran kolektif, serta kohesi sosial yang mendukung keberlanjutan bangsa.
“Dikotomi antara eksakta dan sosial perlu diakhiri. Ilmu sosial-humaniora berperan penting dalam mengasah kepekaan nurani serta membangun keseimbangan antara rasionalitas, iman, dan nilai kemanusiaan. Manusia tidak cukup hanya cerdas secara teknis, tetapi juga harus matang secara moral,” tegasnya.
Arah Pembangunan Indonesia
Wahyudi mengaitkan arah pembangunan Indonesia dengan arus global yang dimulai sejak era Millennium Development Goals hingga Sustainable Development Goals. Ia menilai bahwa kebijakan nasional sering kali selaras dengan prioritas lembaga internasional seperti International Monetary Fund dan World Bank, yang secara tidak langsung memengaruhi strategi penyiapan sumber daya manusia berbasis kebutuhan pasar global.
Jika tidak berhati-hati, menurutnya, Indonesia berisiko hanya menjadi pengikut arus pemikiran global tanpa merumuskan arah sendiri. Dampaknya, struktur sosial bisa semakin timpang karena akses pendidikan unggul dan jejaring internasional cenderung dinikmati oleh kelompok tertentu, sehingga kesenjangan sosial-ekonomi berpotensi melebar.
Wahyudi juga mengingatkan bahaya lahirnya generasi teknokratik yang kaku apabila dominasi STEM tidak diimbangi perspektif humanistik. Ia merujuk pada positivisme Auguste Comte yang menekankan rasionalitas empiris dan memperingatkan bahwa pendekatan yang terlalu positivistik dapat mengikis sensitivitas kemanusiaan.
Pentingnya Keseimbangan dalam Pendidikan
Sebagai solusi, ia mendorong negara untuk menyeimbangkan inovasi teknologi dengan penguatan nilai melalui paradigma profetik yang diperkenalkan oleh Kuntowijoyo. Pembangunan, katanya, tidak cukup berhenti pada strategi dan target pertumbuhan, tetapi harus menyentuh keadilan sosial, kesejahteraan rakyat, dan martabat manusia.
Di akhir pernyataannya, Wahyudi menekankan bahwa kebijakan LPDP dan pendidikan nasional seharusnya tidak terjebak pada logika angka semata. Tanpa sentuhan nilai dan kepekaan sosial, pembangunan berisiko melahirkan generasi yang unggul secara teknis tetapi miskin empati.




