Sumber Foto: Smart Newsroom
Kata Media
445 Kasus Keracunan Makanan dari Program MBG di Indonesia
PADANG, KOMPAS.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merilis data terbaru mengenai evaluasi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan sejak Januari 2025.
Hingga 10 Mei 2026, program ini telah berhasil mendistribusikan lebih dari delapan miliar porsi makanan kepada para siswa mulai dari tingkat PAUD hingga SMA, serta ibu hamil dan menyusui.
Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, menyampaikan bahwa meskipun terdapat 445 kejadian dugaan keracunan, angka tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan total porsi makanan yang telah disalurkan. Program ini mencakup 210 kabupaten dan kota di 36 provinsi, menunjukkan jangkauan yang luas dan dampak positif bagi masyarakat.
Dari total 37.673 korban dugaan keracunan, sebagian besar mengalami gejala ringan dan tidak perlu mendatangi fasilitas kesehatan. Hanya 2.348 korban yang harus menjalani rawat inap, sementara 27.346 lainnya melakukan rawat jalan.
Benjamin menekankan bahwa skala program ini sangat masif, dengan pemerintah menyalurkan sedikitnya 60 juta porsi makanan setiap harinya. Keamanan pangan kini menjadi fokus utama dalam pengelolaan program yang dijalankan oleh 27.649 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Saat ini, sekitar 56,72 persen dari total SPPG yang beroperasi telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), dan pemerintah menargetkan seluruh unit pelayanan segera memiliki dokumen resmi tersebut.
Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat pertumbuhan infrastruktur pendukung program ini tergolong sangat cepat, dengan mobilisasi 27.000 ahli gizi, 27.000 akuntan, serta 1,1 juta relawan untuk mendukung misi Asta Cita.
Provinsi Sumatera Barat menjadi salah satu wilayah dengan sebaran SPPG yang signifikan, mencapai 404 unit. Kehadiran program ini tidak hanya menyasar perbaikan gizi, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat lokal, dengan perputaran uang untuk memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis di Sumatera Barat dilaporkan telah menembus angka Rp 400 miliar.



