Mendikdasmen Serukan Perkuat Persatuan Bangsa Selama Ramadhan
Sumber Foto: ANTARA News
Sosial

Mendikdasmen Serukan Perkuat Persatuan Bangsa Selama Ramadhan

Arahan News - Jakarta (ANTARA) - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti mengajak masyarakat untuk meraih kemuliaan (fadilah) Ramadhan dengan mengisi hari-hari melalui berbagai amalan dan ibadah, termasuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa (ukhuwah wathaniyah).

“Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya terdapat banyak kemuliaan. Kemuliaan itu akan menjadi sempurna kalau kita isi dengan berbagai amalan dan ibadah yang sesuai dengan syariat. Suasana puasa memberikan dorongan spiritual dan kekuatan mental untuk kita dapat mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan hidup. Kita bangun kerukunan, persatuan, khususnya ukhuwah Islamiyah dan juga persatuan bangsa atau ukhuwah wathaniyah,” kata Mendikdasmen Mu’ti di Jakarta, Jumat.

Dalam kesempatan tersebut, Mu’ti juga membahas fenomena communal piety atau kesalehan komunal yang terbentuk dari lingkungan dimana seseorang berada.

Ia menyebutkan semangat beribadah seseorang sangat dipengaruhi oleh orang-orang di sekitarnya, baik dalam lingkup keluarga maupun tempat kerja.

Terkait makna Ramadhan sebagai bulan Quran (Syahrul Quran), Mu’ti menjelaskan dua perspektif sejarah turunnya Al Quran.

Mengacu pada Surah Al-Baqarah Ayat 185, ia menekankan bahwa Al Quran bukan sekadar bacaan, tetapi pembeda antara yang benar (haq) dan yang tidak benar (batil).

“Peristiwa Nuzulul Quran pada 17 Ramadhan merupakan pertanda penting diangkatnya Muhammad sebagai Rasulullah. Tradisi tadarus yang kita laksanakan terinspirasi dari Rasulullah yang senantiasa tadarus Al Quran bersama (malaikat) Jibril. Kita (perlu) memperbanyak membaca Al Quran, terutama pada frekuensi daripada jumlah bacaannya,” ujarnya.

Ia mengimbau agar umat Islam tidak hanya mengejar jumlah bacaan, melainkan lebih membaca Al Quran dengan tartil atau pelan-pelan.

Menurutnya, membaca Al Quran dengan penuh penghayatan akan mendatangkan hidayah dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, Mu’ti juga membahas aspek sosial Ramadhan sebagai bulan persaudaraan (Syahrul Ukhuwah).

Ia melihat tradisi buka bersama yang ada di Indonesia merupakan cerminan kerukunan bangsa.

Menurutnya, buka bersama sering kali diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya mereka yang berpuasa saja.

“Buka bersama itu menunjukkan betapa rahmat dari pengamalan ibadah (puasa) ini dirayakan oleh kalangan masyarakat, apapun agamanya. Nabi menyebutkan bagi orang yang berpuasa itu ada dua kebahagiaan, yang pertama bahagia ketika berbuka dan bahagia saat nanti di akhirat bertemu Allah SWT,” imbuhnya.

Ia menegaskan kemuliaan bulan Ramadhan selain sudah dimuliakan oleh Allah SWT, juga perlu diisi dengan amal saleh.

Ibadah yang dilakukan selama bulan Ramadhan, lanjutnya, harus menjadi momentum bagi setiap orang untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Mengakhiri ceramahnya, Mu’ti mengajak seluruh jamaah untuk memaksimalkan kemampuannya dalam beribadah dan bersedekah. Ia berpesan agar Ramadhan dimanfaatkan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.